Lusi (14), warga dusun Tanjung Batang Kapas, kenagarian Inderapura Barat, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, Berjuang Melawan penyakit yang Dideritanaya

mediaterobos.com 

Pessel- Nasib malang menimpa Lusi (14), warga dusun Tanjung Batang Kapas, kenagarian Inderapura Barat, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, ia harus berjuang melawan penyakit yang menimpanya, karena kedua orangtua Lusi sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dan saat ini Lusi menjadi anak yatim piatu dan harus berjuang untuk hidup dan melawan penyakit lumpuh yang telah lama dideritanya.

Saat ditemui dirumah sangat sederhana milik peninggalan orang tuanya, Lusi yang mengenakan baju merah tampak sedih dan sesekali menerawang jauh. Sekarang Lusi tinggal bersama empat saudara kandungnya, Roni, Mita, Rigo, Lusi. Hidup mereka sekarang hanya mengaharapkan belas kasihan tetangga, keceriaan empat saudara itu jahu lebih menyedihkan ketika tanpa ada yang memperdulikan mereka, kehidup mereka termasuk kurang diperhatikan, pemerintah nagari dan juga pemkab setempat.

"Hal seperti ini harus diperhatikan pemerintah nagari walaupun Pemerintah tingkat Kabupaten," kata Hendra Bursel salah seorang tokoh masyarakat ketika dikonfirmasi media ini, Senen, (25/03-2018) di rumah Lusi.

"Karena memang anak-anak yatim piatu seperti ini harus ditanggung negara kehidupannya, sudah bapak dan ibu tidak punya, perhatian dari pemerintahpun tak ada sama sekali, kasihan kita meliah anak-anak ini, saya meminta kepada pemerintah mohon diperhatikan kehidupan yang seperti ini, agar masa depannya bisa lebih terjamin, seharusnya empat saudara ini berhak mendapatkan kartu jaminan sosial, ini semua yang bersangkutan, bantuan sosial mereka malahan tidak mendapatkan," pungkas Hendra Bursel lagi.

Lusi (14), warga dusun Tanjung Batang Kapas, kenagarian Inderapura Barat, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, Sedang Terbaring Lemah 

Senen, saat media ini menyambangi rumah kediaman yang ditunggui empat orang anak yatim itu. Roni, kakak paling tertua dari pada mereka mengatakan kepada media ini, "adik bungsu kami Lusi menderita penyakit sudah dari lahir, sekarang sudah berumur kurang lebih 14 tahun, dulu semasa orang tua kami hidup, kami bisa membagi pekerjaan demi menjaga sibungsu, namun sekarang semenjak orang tua kami sudah meninggalkan kami selama lamanya kami hanya bisa menjaga dia semampu kami, karna kami sebagai kakak harus berusaha juga mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari," kata Roni kakak tertua dari empat bersaudara itu.

Namun, lanjut Roni, kami sangat sedih melihat adik kami Lusi hanya bisa tidur dilantai sepanjang masa, alangkah baiknya menurut kami, adik kami Lusi, duduk diatas kursi roda dan kami lebih mura merawatnya, bisa kami dorong keluar mencari angin segar atau pertukaran suasana rumah mengambil angin langsung dari alam, tetapi apa boleh buat kami tidak mampu untuk membelikan itu sama adik kami,"tambah Roni penuh dengan sedih dan sedikit meneteskan air mata.

Ditempat terpisah, media ini mencoba mendatangi kantor Camat setempat, untuk mengonfirmasi penyakit yang diderita Lusi, namun kedatangan media ini sia-sia, Camat yang dituju sedang diluar kantor. (*)










 
Top