Petani Sawit Angkut Hasil Taninya di Jalan Yang Berlobang-lobang

mediaterobos.com-


 Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pesisir Selatan, Kecamatan Pancung Soal Sejak Delapan (8) atau Sepuluh (10) tahun dahulu, tanaman kelapa sawit dikembangkan secara serius dengan cara per orangan ada juga dengan berkelompok, maupun perusahan yang bergerak dikampung itu Incasiraya.

"Ya. Delapan atau sepuluh tahun lalu kelapa sawit dikembangkan dengan serius masyarakat disini," kata Henragil pada mediaterobos.com di Inderapura Sabtu (8/9-2018).

"Alhamdulillah, sekarang masyarakat sudah mulai menikmati hasil tandan buah segar (TBS). Namun demikian, kita sangat prihatin sekali melihat infrastruktur  menuju kebun sawit mereka, saya melihat kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat," tambah Henragil.

"Kita sangat kasihan sekali. Melihat kelompok tani sawit, khususnya rei I sampai rei 7, jalan menju kebun mereka sangat meprihatinkan. Hujan satu hari atau dua hari saja petani disekitar itu tidak akan bisa membawa hasil tani mereka keluar," pungkas henragil lagi.

Warga Tani Jalan di Jembatan yang Hampir Rubuh

Inderapura. Dikawasan ini ada ribuan hektar tanaman kebun rakyat termasuk yang di holah langsung pihak Perusahan sudah memproduksi tandan buah segar (TBS).

Beberapa tahun yang lalu, produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit setempat menjadi komoditas andalan para petani. Tingkat harga sangat menjanjikan mendorong petani, termasuk pengusaha, bahkan PNS ramai-ramai membuka areal kebun sawit.

Namun, hitungan tahun  terakhir para petani kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan, Kecamatan Pancung Soal kurang bergairah.

Penyebabnya, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani terpuruk sampai titik terendah dan hingga sekarang ini belum bangkit.

Disamping harga tandan buah segar (TBS) turun dratis, petani sawit didaerah ini mengeluhkan hubungan jalan sampai saat ini yang tidak memadai.

Warga seberangi Jembatan yang Dibangun Warga Tani

Tempat berbeda. Irda Ardian 40 tahun warga kampung medan baik, nagari tluk kualo, Kecamatan Air pura. Ia mengeluh sulitnya membawa hasil panen untuk dijual dengan harapan bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

"Hujan satu hari atau dua hari saja. Kami petani tak bisa bawa hasil tani keluar untuk dijual," kata Ardi bapak satu anak ini.

"Kemaren teman disini mereka petani jagung, sampai membusuk dikarung karna hujan turun sehinggah jalan dan jemabatan takbisa lagi kami lewati ," tambah Ardi.

Kekompakan kelompok tani sawit di areal rei I sampai 7 kelihatan sekali, disini mereka bersatu padu untuk membangun jalan dan jembatan tempat penyeberangan hasil kebun mereka, disetiap hari minggu kelompok tani disini mengadakan gotong royong (goro) bersama demi kelangsungan hasil tani mereka.

Jalan Menuju Kebun Sawit Sangat Memprihatinkan.

Tempat yang sama. Ramadan 32 tahun, warga kampung rimbo lumang nagari tluk kualo, Kecamatan Air pura.Kabupaten Pesisir selatan Provinsi Sumatera barat. Ramadan mengatakan ampir sama denga orang sebelumnya.

"Saya minta pemerintah memperhatikan jalan kekebun kami," katanya.

"Sekarang, kami kelompok tani bekerja dengan cara swadaya, beriuran semampu kami, alahamdulillah jembatan yang dibangun dengan swadaya bisa dilewati," katanya. mengakhiri.(**)
 Jalan Yang Meprihatinkan Dibangun Bersama-Sama Oleh Warga Tani
 
Top