Pariwara Padang Panjang

Padang Panjang,mediaterobos.com–Beberapa waktu lalu ASN (Apratur Sipil Negara) Kota padang Panjang mengikuti gerakan JT (Jemaah Tabligh) di Masjid Al-Muwarah, Tanah Hitam, Padang Panjang Barat. Ikut (mondok) waktu itu pejabat esselon dua, tiga dan empat. Pejabat laki laki digembleng selama tiga hari tiga malam oleh Ustadz M.Yunus dan Ustadz Jakfar beserta kawan kawan. Sedangkan pejabat perempuan, hanya ikut program siang hari saja di rumah istri Ustadz Yunus. Mereka diasuh para Ustadzah pula.


Ustadz Yunus dan Ustadz Jakfar, terbilang senior di Padang Panjang. Mereka masuk JT di akhir tahun 1990-an. Berkat terus bergerak melaksanakan dakwah sesuai arahan petinggi JT tingkat nasional dan dunia, maka hingga kini JT sudah familiar di Padang Panjang. Tiga malam iktikaf di masjid ikut semua program JT, ASN tadi mengakui ada perubahan pada diri mereka. Dari yang semula tidak tahu menjadi tahu. Semula kurang paham menjadi paham. Sebelumnya enggan berjamaah menjadi kuat berjamaah. Selama tiga hari itu pula kepada mereka ditanamkan betapa pentingnya shalat berjamaah lima waktu sehari semalam. Kemudian ada program alaqoh Al-Quraan di pagi hari sebelum siang, sekaligus juga membetulkan bacaan shalat.


Setelah zuhur ada muzakarah mempelajari adab adab dan doa dalam kehidupan sehari hari. Seperti doa sebelum dan setelah bangun tidur. Doa masuk keluar masjid, masuk dan keluar pasar, masuk dan keluar wc. Serta berbagai doa lain untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjelang magrib, mereka dibawa jaula mengajak warga untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid. Habis magrib ada bayan (ceramah agama) tentang pentingnya iman dan amal sholeh. Setelah isya menjelang tidur ada tausiah singkat tentang kisah-kisah sahabat dalam menyebarkan Islam. Menjelang subuh tahajud serta berzikir atau baca Al-Quraan.


Hasil selama tiga hari tiga malam di Masjid Al-Munawarah, itu dirasakan manfaatnya oleh mereka yang mengikuti secara total. Seperti diungkapkan Reflis salah seorang pejabat Pemko Padang Panjang. Dia mengakui sepulang tiga hari, merasakan kesejukan di hatinya. “Rasanya setelah mengikuti JT selama tiga hari, saya merasa baru mengenal agama Islam,” kata Reflis ketika diminta tanggapannya setelah mengikuti program tiga hari itu. 


Hal senada juga diucapkan Edityawarman yang kini menjabat Sekretarus KPU Padang Panjang. “Mengapa tidak sejak dahulu saya mengikuti JT ini. Tapi saya masih bersyukur masih bisa ikut. Sungguh tak ternilai harga yang saya dapatkan selama tiga hari ini,” katanya.


Begitulah tanggapan para pejabat yang mewakili mereka yang ikut program JT di Masjid Al-Munawarah selama tiga hari. Semula mereka terlihat agak gelisah ketika dikirim ke Al-Munawarah. Ada yang menyebut program ini nyeleneh, tidak sesuai dengan batin mereka. Tetapi ketika telah mengikutinya dari awal sampai akhir, barulah mereka paham akan maksudnya. Seperti yang disampaikan Arkes Rafagus Kasat Pol PP dan Damkar. “Terimakasih. Saya sangat merasakan manfaatnya selama mengikuti JT. Untung saya ke Al-Munawarah,” kata Arkes. Kurang lebih begitu pula kesan yang diperoleh para pejabat lain peserta diklat tiga hari beriktikaf di masjid ini.


Menurut Yunus yang sehari hari mengurus Masjid Al-Munawarh, Jemaah Tabligh sebetulnya telah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu dengan aktivitas utamanya melakukan gerakan dakwah Islam. Gerakan ini dimulai pada 1926 oleh Maulana Muhammad Ilyas di India dengan tujuan menghidupkan kembali dakwah, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad, SAW dan para sahabatnya. Gerakan ini kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia pada 1960-an. Di Padang Panjang , Jemaah Tabligh mulai eksis tahun 1990-an. 


Nama Jemaah Tabligh sendiri, kata Yunus, bukan nama yang diciptakan komunitasnya tapi merupakan sebutan orang lain kepada mereka yang selalu melakukan dakwah dan tabligh. Dakwah mengandung arti mengajak, sedangkan tabligh berarti menyampaikan kebaikan. Jemaah Tabligh, dijelaskan Yunus, bukan sebuah organisasi atau kelompok, tapi kumpulan kaum muslimin yang ingin melaksanakan apa yang diperintahkan Al Qur’an dan dicontohkan Rasulallah SAW. “Kami tidak punya misi apa-apa, hanya ingin berdakwah. Jadi, kami sering istilahkan jemaah ini bukan organisas tapi sorganisasi (plesetan dari organisasi yang fokus mencari surga). Bagaimana orang untuk bisa masuk surga dunia dan surga akhirat,” kata Yunus.


Di Masjid Almunawarah ini,  di malam markas (malam Jumat), berkumpul jamaah dari Pasaman, Agam, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Tanah Datar, termasuk Kayu Tanam, Padang Pariaman dan Paninggahan, Kabupaten Solok. Setelah Shalat Magrib bersama, para jamaah mendengarkan ceramah yang disampaikan seorang ustaz yang ditunjuk dengan musyawarah.  “Isi ceramah tidak bicara politik, juga tidak bicara materi, dan tidak bicara masalah – masalah khilafiah,” kata H. Masnun, seorang anggota Jamaah Tabligh awalun untuk Padang Panjang. 


Meneladani persuadaraan seperti yang dilakukan nabi Muhamad SAW dengan para sahabat beliau. Keramahtamahan antara jamaah sangat tampak sekali. Jamaah Tabligh yang memiliki pengikut di 215 negara, persaudaraan di antara mereka sangat kuat. Kita ikhlas melakukan ini semua karena dunia ini kan hanya sementara. Sedangkan akhirat selama – lamanya. Sayangnya banyak orang yang terkecoh dengan gemerlapannya dunia, lupa akhirat dan lupa berdakwah,” kata salah seorang yang lain.  



Pola musyawarah sangat didahulukan dalam mengambil langkah dakwah dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan. Hasil musyawarah merupakan keputusan tertinggi. Musyawarah ini bertingkat. Mulai dari musyawarah halaqoh di masjid lingkungan, musyawarah kecamatan, musyawarah kabupaten/ kota, musyawarah provinsi, musyawarah nasional dan musyawarah dunia. Untuk pertemuan tingkat dunia disebut Ijtima yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah. Biasanya diadakan tiap tahun di Bangladesh. Dari Indonesia yang dating berasal dari berbagai profesi, antara lain pimpinan pondok pesantren, pengusaha muda eksekutif muda, artis, pedagang kaki lima, pegawai negeri, dan pejabat. Ijtima itu dihadiri kurang lebih empat juta orang dari lebih 100 negara. Ajang di Bangladesh ini telah menjadi kegiatan International.



Setelah ASN Pemko Padang Panjang, kabarnya, ada dua Pemko lagi di Sumbar, yang sedang menjajaki kerjasama untuk mengikutkan ASN- nya tiga hari di Al-Munawarah. Bisa juga nanti memanfaat Masjid Islamic Center Padang Panjang yang baru saja rampung di bangun.(Pul)

 
Top