Foto : Amiruddin Syam, Datuk Marajo Basa. Wakil ketu kerapatan adat nagari (KAN) Basa Ampek Balai Tapan
 sat dikonfirmasi media ini, Sabtu 14 September 2019 diruangan kerjanya.

mediaterobos.com 

Pessel- Masyarakat Kampung Panadah Mudik, Nagari Limau Purut, Kecamatan Basa Ampek Balai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,  mengeluhkan adanya tambang pasir atau galian C, yang diduga menjadi penyebab banjir di SMKN I Tapan pada beberapa bulan yang lalu, hal itu dikatakan wakil ketua kerapatan adat nagari (KAN) Tapan Amiruddin Syam, Datuk Marajo Basa, kepada media ini, Sabtu 14 September 2019 diruangan kerjanya.

“Akibat galian C yang dikeloala CV. Bangun Jaya Indojati, SMKN I Basa Ampek Balai terendam banjir beberapa bulan yang lalu, akibatnya SMKN I menelan banyak kerugian, belajar mengajar terganggu sehingga murid diliburkan satu minggu lamanya,” kata Amiruddin wakil ketua KAN Tapan Basa Ampek Balai.


Tidak hanya itu, Amiruddin menambahkan, ulah galian C yang digerakan oleh CV. Bangun Jaya Indojati tersebut, puluhan hektaran sawah milik petani rusak dan gagal panen. Ironisnya kerusakan lahan pertanian masyarakat ini di duga kuat oleh tercemarnya saluran perairan akibat dari limbah galian C atau tambang pasir yang berada di Nagari Limau Purut.

“Permasalahan ini sudah lama dikeluhkan oleh petani, bahkan hampir setiap hari keluhan masyarakat ini juga disuarakan melalui media sosial oleh tokoh pemuda, telah dilaporkan ke tingkat Provinsi tepatnya ke perizinan, sudah dua kali kami datang kesana, pihak perizinan berjanji akan turun kelokasi, nyatanya sampai saat ini pihak perizinan itu belum turun,” pungkas Amiruddin yang juga menjabat tata usaha SMKN I Tapan saat ini.

Menurut Amiruddin, setidaknya galian C tersebut ditutup sementara sampai ada titik terangnya, masyarakat hanya meminta aliaran air ke sawah normal kembali, agar mereka dapat menyambung hidupnya seperti sedia kala, selain sawah juga jembatan yang putus oleh banjir yang diduga penyebabnya galian C harus dibangun kembali.


”Kami minta ketegasan Gubenur dan dinas terkait menelusiri persoalan ini secepatnya agar tidak berlarut larut, perusahan ini tidak lagi sesuai dengan perjanjian awal, dulu, perjanjiannya yang akan di operasikan satu unit alat berat dan 5 truk pengangkut hasil tambang, nah sekarang, suda puluhan truk yang lansir alat berat suda Dua,” tambah Amiruddin lagi.

Sementara itu, sampai berita ini diturunkan, media ini belum berhasil menghubungi Dinas terkait Provinsi Sumatera Barat, yang akan dikonfirmasi, terkait kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur jembatan dan Sekolah, akibat tidak terkendalinya usaha galian C yang dikelola CV. Bangun Jaya Indojati di Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan sekarang menuai banyak masalah.

Di tempat yang sama, menurutnya, wakil ketua KAN Tapan Amiruddin, pengelolaan lahan tambang galian C merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah dengan pemilik lahan maupun penyewa lahan yang menjalankan pekerjaan. Pemerintah harus terlibat dalam hal ini dan ikut memberikan arahan kepada pengelola tambang.

 “Semua stake holder harus bekerja sama, antara pemerintah, pemilik/penyewa lahan, serta lembaga penelitian agar aktivitas penambangan bisa tetap berjalan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan tidak sampai merugikan masyarakat tani,” pungkasnya wakil ketua KAN Tapan Amiruddin mengakhiri ucapannya. (Hen)


Pewarta        : Hendra
Editor           : Ariel Wartawan Madya

 
Top