mediaterobos.com Solsel- Sekitar 100 hektare areal persawahan warga di Nagari Bidar Alam, Kecamatan Sangir Jujuan, Solsel terancam gagal panen. Pasalnya, dikarenakan turunnya debit air Sungai Batang Sangir sehingga tidak mampu mengaliri irigasi pertanian masyarakat sekitar.

Selama ini, Batang Sangir menjadi sumber utama bagi kebutuhan sawah warga di nagari pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) itu. "Permukaan air sungai turun dikarenakan sudah lama tidak turun hujan. Sebagai bentuk antisipasi, warga sudah berupaya melakukan Goro untuk membuat saluran irigasi darurat menggunakan bambu supaya bisa mengairi sawah," sebut Wali Nagari Bidar Alam, Gefriadi, Kamis (8/8). kepada media ini.

Kekeringan tersebut, imbuhnya berlangsung sekitar dua pekan dan pada umumnya usia tanaman padi warga berkisar 1-2 bulan, dimana sangat membutuhkan ketersediaan air. "Insyaallah, alat berat bisa datang hari ini supaya sungai batang sangir bisa dibendung, ketika musim surut ini," ujar Gefriadi.

Ada sekitar tujuh Jorong yang terdampak, yakni Jorong Sigalugu, Kalapalo Koto, Simpang Tigo, Bulian, Pasar, Batikan dan Harapan Baru.

Senada, Mai, salah seorang warga yang memiliki areal persawahan mengatakan, kekeringan disebabkan mengecilnya debit air sungai batang sangir, dengan demikian air tidak bisa naik ke saluran irigasi sawah.

"Debit air sungai batang Sangir mengecil karena disebabkan musim kemarau yang telah terjadi selama dua minggu. Jika tidak ada solusi dari instansi terkait maka sawah warga terancam gagal panen," sebutnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Solsel, Tri Handoyo mengatakan untuk antisipasi pihaknya akan membantu penyediaan pompa air. "Bisa nanti koordinasi melalui koordinator penyuluh pertanian setempat untuk mesin pompa air atau langsung ke Dinas. Sejauh ini, saya belum mendapat laporan," katanya. (h/jef/men)
 
Top