Solsel- Pegiat dan pengusaha kopi Solok Selatan, Sumatera Barat membentuk asosiasi kopi sebagai wadah penghimpun pelaku usaha dan petani serta memperkenalkan kopi asal kabupaten itu keluar daerah.

"Melalui wadah ini kami juga berdiskusi bagaimana budidaya dan panen yang baik serta menyiapkan kopi yang dicari di pasaran kepada petani serta pengusaha," kata Ketua Asosiasi Kopi Solok Selatan, Attila Majidi, didampingi Sekretaris Salpayandri di Padang Aro, Kamis.

Dia mengatakan asosiasi ini untuk menghimpun petani dan pelaku usaha di Solok Selatan agar kopi menjadi ikon kabupaten yang berada di perbatasan Kerinci, Jambi ini.

Selain itu, katanya, asosiasi juga akan memberikan edukasi bagaimana budidaya yang baik serta kopi seperti apa yang dicari di pasaran.

Asosiasi juga menyediakan outlet sentra kopi Solok Selatan sehingga lebih dikenal lagi dan mudah dicari.

Sebetulnya, sebutnya kopi Solok Selatan sudah dikenal bahkan jenis Robusta menjadi yang terbaik II produk Volcanoss di Sumbar.

Saat ini sebagian besar petani di Solok Selatan asalan dalam pengolahan kopi sehingga sehingga harganya dipasaran menjadi jatuh.

Asosiasi kopi Solok Selatan setiap dua pekan berkumpul untuk berdiskusi ringan membahas tentang kopi Solok Selatan.

Untuk itulah, katanya, perlu wadah untuk memperkenalkan pada petani bagaimana cara pengolahan kopi pascapanen.

"Kopi yang bagus harus petik matang dan pengupasan kulitnya juga tidak boleh cangkangnya terbuang," ujarnya.

Selain itu, katanya, juga bagaimana cara seduh kopi yang baik sehingga konsumen puas dan menikmati kopi.

Dia mendorong, pemerintah daerah memberikan pelatihan sesering mungkin pada petani kopi serta penyuluh pertanian.

Dalam waktu dekat asosiasi kopi Solok Selatan akan mengadakan festival guna memperkenalkan kopi Solok Selatan.

Dia menambahkan, untuk kopi jenis arabika sudah ada 600 hektate yang menghasilkan dan 300 hektare belum menghasilkan.

"Masih ada 1.800 hektare lagi potensi yang bisa ditanami kopo arabika di Solok Selatan," ujarnya.

Asosiasi kopi Solok Selatan juga melibatkan peneliti kopi dari Universitas Andalas (Unand) Padang supaya lebih maju dan berkembang.

Sebelumnya Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Hargyono mengatakan komoditas kopi bisa menjadi produk unggulan perhutanan sosial di Provinsi Sumatera Barat.

Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan secara lestari yang dilakukan dalam kawasan hutan negara atau hutan adat, yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraan.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat sekitar 2,4 juta hektare kawasan hutan di Sumbar.

Dari angka tersebut, lanjutnya baru sekitar 200 ribu hektare hutan yang sudah diterbitkan izin atas perhutanan sosial. Artinya masih ada jutaan hektare lahan hutan yang bisa ditanami kopi. (*)

Sumber Antara Sumbar 
 
Top