Padang Aro-Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, menargetkan produksi jagung sebanyak 109.410 Ton pada 2018 atau lebih banyak 5.478 ton dibandingkan target 2017 yang hanya 103.932 ton.

"Guna mencapai target tersebut kami mengoptimalkan integrasi tanaman jagung dengan sawit serta mengajak masyarakat memanfaatkan lahan tidur atau sawah yang tidak dialiri irigasi," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Solok Selatan, Nurhamidah di Padang Aro, Rabu. 

Pemerintah setempat juga menjaga produksi padi sehingga pembudidayaan jagung ini dilarang di sawah produktif. 

Dia mengatakan, saat ini lahan jagung yang ada seluas 8.773 hektare dengan target tanam pada 2018 seluas 21.932 hektare dengan panen 21.882 hektare dan provitas lima ton per hektare. 

Sedangkan indeks penanaman jagung Solok Selatan 2,5 ton per tahun sehingga ada masa tanam 2018 baru dipanen pada 2019. 

Baca juga: Pemkab Solok Selatan Distribusikan 15 Ton Bibit Jagung Hibrida

"Kami mengurangi provitas dari tujuh ton per hektare menjadi lima ton karena ada integrasi dengan sawit," ujarnya. 

Selain itu bantuan bibit dari pemerintah pusat masih ada, tetapi belum diketahui jumlah dan jenisnya. 

Produksi jagung Solok Selatan sepanjang 2017 mencapai 95.862 ton atau lebih rendah dari target yang ditetapkan 103.932 ton. 

Capaian produksi 92,23 persen atau kurang dari target karena luas lahannya kurang tersedia khususnya yang integrasi dengan sawit, oleh sebab itu tahun ini integrasi sawit-jagung lebih dioptimalkan.

Sepanjang 2017 luas tanam jagung Solok Selatan seluas 14.437 hektare, sedangkan targetnya mencapai 15.497 hektare. 

Baca juga: Solok Selatan Integrasikan Tanaman Sawit dengan Jagung

Sedangkan luas panen juga di bawah target yaitu 15.030 hektare atau 95,83 persen dari target yang ditetapkan 15.684 hektare. 

Salah seorang anggota kelompok tani wanita di Lubuak Gadang Timur Kecamatan Sangir, Hernita (39) berharap bantuan bibit dari pemerintah tahun ini jenis Pioneer 32 atau sesuai dengan yang dibudidayakan petani. 

"Pioneer 32 yang biasa kami tanam dan hasilnya juga lebih bagus dibandingkan bibit lainnya dengan perawatan dan perlakuan sama," ujarnya. 

Tahun lalu kata dia, bantuan bibit jenis pioneer 33 dan hasilnya kurang maksimal sehingga banyak petani yang membeli bibit jenis pioneer 32 karena hasilnya lebih bagus. (*)


Sumber  (Antaranews Sumbar)
 
Top