Parit Malintang-Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) untuk menyesuaikan nama daerah mulai dari kecamatan hingga nagari ke aslinya, karena selama ini tidak sesuai dengan kearifan lokal setempat.

"Misalnya saja Kecamatan VII Koto Sungai Sarik, kita sesuaikan kembali menjadi VII Koto Sungai Sariak," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, Jonpriadi di Parit Malintang, Rabu.

Ia mengatakan dilakukannya penyesuaian tersebut karena selama ini nama kecamatan dan nagari di daerah itu di-Indonesiakan sehingga tidak memiliki arti.

Dengan terjadinya hal tersebut maka timbul dorongan dari sejumlah pihak untuk mengembalikan nama-nama daerah itu ke aslinya sehingga memiliki arti dan enak didengar.

Namun lanjutnya untuk menyesuaikan nama tersebut diperlukan peraturan daerah sehingga penetapannya lebih mengikat karena memiliki landasan hukum yang kuat.

Saat ini ranperda penyesuaian nama daerah itu masih dalam tahap penyempurnaan, dan apabila telah selesai maka akan diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Padang Pariaman.

Meski masih dalam tahap penyempurnaan, lanjutnya Ranperda tersebut telah dimasukkan ke dalam program legislasi daerah agar cepat mendapat jadwal persidangan.

"Kami harapkan tahun ini dapat disidangkan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Padang Pariaman Tri Suryadi mendukung pemerintah setempat untuk mengembalikan nama kecamatan dan nagari ke aslinya, karena selama ini nama-nama tersebut melenceng dari kearifan lokal setempat.

"Banyak nama-nama kecamatan dan nagari yang melenceng dari arti yang sesungguhnya, dan hal tersebut dapat menghilangkan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal kita," kata dia.

Ia menyebutkan nama-nama daerah tersebut yaitu di antaranya Kecamatan Sungai Geringging yang harusnya Sungai Garinggiang, lalu di Kecamatan Sungai Limau ada daerah bernama Sibaruas padahal nama aslinya Sibarueh.

Ia mengatakan nama-nama daerah yang di-Indonesia-kan itu harus dikembalikan ke aslinya agar dapat melekat antara kearifan lokal yang dibawa nama tersebut dengan masyarakatnya.

Terlebih, lanjutnya perkembangan teknologi sekarang yang pesat dapat mengubah pola pikir masyarakat setempat dan diharapkan dengan dikembalikannya nama daerah itu sesuai dengan kearifan lokal maka dapat menjaga sifat masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 Sumber (Antaranews Sumbar) 
 
Top