Padang Aro-Jatah pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tahun ini bertambah 435 ton dari sebelumnya 10.090 ton pada 2017 menjadi 10.525 ton pada 2018.

"Penambahan jatah pupuk bersubsidi tahun tidak begitu besar dan tidak untuk semua jenis sebab untuk ZA dan organik koutanya malah berkurang," kata Kepala Dinas Pertanian Solok Selatan, Tri Handoyo Gunardi di Padang Aro, Senin.

Ia menyebutkan untuk Solok Selatan penggunaan pupuk bersubsidi paling besar di wilayah Kecamatan Sangir dengan kisaran 80-100 ton per bulan.

Kecamatan Sangir menjadi sentra padi dan jagung yang banyak butuh pupuk bersubsidi.

Jatah pupuk bersubsidi Solok Selatan tahun ini untuk jenis urea mengalami peningkatan paling banyak yaitu dari 3.900 ton pada 2017 menjadi 4.400 ton 2018 atau meningkat sebanyak 500 ton.

Selanjutnya SP36 naik sebanyak 150 ton dari 1.400 ton pada 2017 menjadi 1.550 ton 2018 sedangkan jenis NPK-Phonska dari 2.240 ton menjadi 2.600 ton.

Sedangkan untuk pupuk organik koutanya menurun dari 1.800 ton pada 2017 menjadi 1.275 ton dan ZA juga berkurang dari 750 ton menjadi 700 ton.

Ia menjelaskan pihaknya sudah mengeluarkan keputusan Kepala Dinas Pertanian dan kuota pupuk sudah bisa ditebus oleh pengecer.

Baca juga: Jangan Khawatir, Tidak Ada Urea Bersubsidi di Pasaman yang Kedaluwarsa

Bila kebutuhan pupuk ini tidak mencukupi nantinya maka pihaknya akan mengusulkan penambahan ke Provinsi sesuai Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Selain itu petani diharapkan lebih kreatif memanfaatkan potensi pupuk kandang melalui swadaya.

Terkait harga pupuk yang dijual di atas HET, katanya pihaknya masih menelusurinya karena pengencer menebusnya juga tinggi.

"Kami belum tahu dimana permasalahannya karena harga yang dikeluarkan oleh pengencer sampai digudang mereka sudah diatas HET," ujarnya.

Sedangkan kekosongan pupuk di Januari, terjadi karena persiapan administrasi yang cukup lama sehingga pengencer belum bisa menebusnya.

Salah seorang petani Jagung di Lubuak Gadang Timur Irnanto (31) mengatakan sejak tiga minggu belakangan pupuk subsidi jenis NPK Ponska dan SP36 sulit didapatkan.

Baca juga: Pupuk Bersubsidi Langka di Solok Selatan

"Kalaupun ada harnya sangat mahal yaitu Rp200 ribu perkarung sedangkan biasanya hanya Rp140 ribu perkarung," katanya.

Petani lainnya Mawan (42) mengatakan, hampir setiap awal tahun pupuk sulit didapatkan sehingga merugikan petani.

"Kami berharap pupuk ini selalu tersedia sebab akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman terutama jagung," ujarnya. (*)


Sumber  (Antaranews Sumbar)
 
Top