SOLSEL,TEROBOS-Hasil produksi 11 jenis perkebunan rakyat di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, mengalami kenaikan produksi sebesar 8.824.187 kilogram atau menjadi 14.576.537pada Triwulan III 2016,dimana sebelumnya hanya 5.752.350 kilogram pada 2015.

"Ke 11 jenis perkebunan itu hampir merata mengalami kenaikan produksi, bahkan beberapa jenis mengalami peningkatan lebih dari 100 persen," kata Kepala Bidang Pengelolaan Kebun, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Solok Selatan Wandra, di Padang Aro, Rabu.

Ia menyebutkan hasil perkebunan rakyat yang mengalami peningkatan yaitu kelapa dalam dimana hingga triwulan III tahun ini sudah mencapai 1.209.026 kilogram dengan setiap hektaarenya mencapai 825 kilogram sedangkan 2015 hanya 404.119 kilogram dengan rata-rata perhektarenya 276 kilogram.

Selanjutnya produksi karet juga meningkat tajam walaupun harganya masih rendah yaitu tahun lalu hanya 3.024.274 kilogram dengan rata-rata 270 kilogram perhektare, sedangkan 2016 telah mencapai 8.601.218 kilogram dengan hasil perhektarenya 769 kilogram.

Sektor perkebunan sawit peningkatan produksinya juga sngat tinggi dimana hingga triwulan III 2016 sebanyak 1.629.969 kilogram, sedangkan tahun lalu periode yang sama hanya 742.475 kilogram atau tidak sampai separohnya.

Selain itu produksi kebun rakyat yang juga signifikan adalah kopi robusta dimana sekarang sudah mencapai 993.924 kilogram sedangkan tahun lalu periode yang sama 456.682 kilogram.

"Kopi rubusta peminatnya sekarang cukup tinggi dan tercatat penambahan lahan 12 hektare tahun lalu," katanya.

Sedangkan beberapa jenis hasil perkebunan lainnya seperti cassiavera, kkao, kopi arabika, cengkeh, enau dan gardamunggu tetap mengalami peningkatan produksi tetapi tidak terlalu tinggi.

Sedangkan untuk pinang katanya, tahun ini menjadi satu-satunya hasil perkebunan yang mengalami penurunan produksi dimana tahun lalu hingga triwulan III mencapai 465.354 kilogram tetapi sekarang baru 359.257 kilogram.

Salah seorang warga Lubuak Gadang Timur Maher (69) mengatakan, ia tetap memanen karet walaupun harganya murah karena masih bisa menghasilkan sebagai tambahan sehari-hari.

Sedangkan untuk pinang katanya, hampir setiap masyarakat memiliki tetapi jumlahnya tidak banyak dan sekarang hampir merata buah pinang berkurang.

"Pinang buahnya sekarang tidak banyak seperti biasanya tetapi harganya cukup tinggi yaitu diatas Rp10 ribu perkilonya," katanya.

Warga lainnya Hen (38) menyebutkan, pinang bisa memenuhi kebutuhan setiap minggunya karena sekarang harganya cukup bagus.

"Pinang banyak yang dijadikan batas sepadan tanah oleh warga dan buahnya juga bisa dijual bahkan dapat menutupi kebutuhan setiap minggunya tetapi sekarang memang terjadi penurunan buah pinang dan in terjadi merata hampir setiap bantangnya," kata dia.(*)

 
Top